Minggu, 02 Januari 2011

NILAI UNAS BUKAN PENENTU KELULUSAN

Meski ujian nasional baru akan berlangsung April 2011 mendatang, Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) sudah merencanakan standar kelulusan siswa.  Salah satu ketentuannya menyatakan bahwa  nilai unas  bukan satu-satunya penentu kelulusan siswa. Meski begitu, ujian nasional masih menjadi persyaratan siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Kepala BSNP Djemari Mardapi mengatakan, keputusan itu disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan (SNP). Khususnya pada pasal 72 ayat satu yang menyatakan bahwa kelulusan peserta didik tidak hanya dinilai dari hasil unas semata. “Masih ada tiga kriteria lain yang harus diperhatikan oleh sekolah untuk bisa menentukan siswa itu lulus atau tidak,” katanya.
Djemari menjelaskan, tiga kriteria selain nilai unas antara lain menyelesaikan program pembelajaran, lulus ujian sekolah, dan perolehan nilai baik pada semua  mata pelajaran, juga  akhlak mulia, kewarganegaraan, kepribadian, setetika, jasmani, kesehatan, dan olahraga. “Penilaiannya dalam bentuk  tertulis, tes perbuatan, dan pengamatan,” tandasnya.
Kata Djemari, setiap nilai memiliki keriteria nilai kelulusan masing-masing. Yaitu ada batas lulus untuk tiap komponen penilaiannya. Ketentuan nilainya diberikan oleh masing-masing pengajar di sekolah. “Oleh karena itu tidak benar bila dikatakan hanya unas yang menentukan kelulusan,” ujarnya.
Menurut Djemari, meski ketentuan sudah disusun sejak lama tapi tidak banyak masyarakat yang memahaminya. Sebab,kebanyakan siswa menjadikan unas sebagai momok dari akhir evaluasi pembelajarannya.
Wakil mendiknas Fasli Jalal menambahkan, meski sudah memiliki panduan rencana unas satuan pendidikan dasar dan menengah tahun ajaran 2010/2011 baru. Kemendiknas tetap menggunakan standar nilai yang sama dengan tahun lalu yakni 5,5 pada setiap mata pelajaran.
Fasli menegaskan, penentuan standar nilai itu belum bisa dinaikkan hingga standar pelayanan minimun (SPM) pendidikan di setiap daerah sudah sama. “Sekarang kan  masih belum merata, dan ini butuh waktu. Karena sedang kami tingkatkan daerah mana belum sesuai SPM-nya,” lanut Fasli.
Mengenai kelulusan sekolah, Fasli mengaku tetap memberlakukan kelulusan sekolah sebagai syarat masuk siswa ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. “Kalau dia lulus unas tapi tidak lulus sekolah, tetap tidak bisa mendaftar ke jenjang selanjutnya,” tambah mantan Dirjen Dikti itu.
Sebelumnya, BSNP mengumumkan jadwal unas SMA,MA, SMALB, dan SMK pada 4 hingga 9 April 2011. Dijadwalkan pula unas ulangan untuk jenjang tersebut  pada 23-27 Mei 2011. Sementara jadwal unas SMP, Mts, dan SMPLB dijadwalkan berlangsung pada 11 hingga 14 April 2011. Dan unas ulangan dijadwalkan pada 23 hingga 26 Mei 2011.  Sedangkan Ujian akhir sekolah berstandar nasional (UASBN) berlangsung pada 2011
JADWAL UNAS 2011
JENJANG                                                                       TANGGAL
SMA,MA, SMALB, dan SMK                                        4-9 APRIL 2011
UNAS ULANGAN SMA,MA,SMKA, SMALB                   23-27 MEI 2011
SMP, MTS, DAN SMPLB                                          11-14 APRIL 2011
SMP,MTS, DAN SMPLB                                               23-26 MEI 2011
UASBN                                                                                 MEI 2011

Sumber : BSNP

Sabtu, 01 Januari 2011

DALAM TIGA HARI BISA MEMBUAT ROBOT











 

CHRISTIANTO Tjahyadi (kanan) menunjukkan cara kerja robot-robotnya di padepokan kawasan Baranangsiang Kota Bandung, Sabtu (14/8). Menurut Chris, Indonesia sebenarnya punya potensi besar untuk mengembangkan dunia robotik ini.* NURYANI/”PR”
 
Membuat robot ternyata tidak serumit yang dipikirkan banyak orang. Tidak perlu kuliah empat tahun atau pelatihan berbulan-bulan kalau sekadar ingin membuat robot cerdas. Cukup meluangkan waktu tiga hari, siapa pun bisa merakit dan menghasilkan sebuah robot.
Padepokan robot Next System adalah salah satu tempatnya. Di tempat inilah semua orang yang tertarik dengan robot bisa memperoleh pelatihan bagaimana membuat robot dengan cara yang mudah dan sederhana. “Sebetulnya tidak sulit, dalam tiga hari pun siapa saja bisa membuat robot. Artinya dia bisa membuat program, merakit, sampai akhirnya membangun sebuah robot sesuai dengan keinginan pembuat dan membawa pulang robot tersebut,” kata penggagas padepokan, Christianto Tjahyadi saat ditemui di lokasi pelatihan, Sabtu (14/8).
Menurut Chris, Indonesia sebenarnya punya potensi besar untuk mengembangkan dunia robotik ini. Bahkan, tidak perlu mengimpor robot-robot produksi luar negeri untuk memenuhi kebutuhan robot para pegiat robot termasuk sekolah dan perguruan tinggi. “Sayangnya belum banyak orang yang peduli dan berkonsentrasi di bidang ini. Padahal seperti di sini, saya bisa memproduksi robot-robot dengan bahan lokal. Tidak perlu beli robot Lego dari negara lain, kita juga bisa. Harga sudah pasti jauh lebih murah dan yang penting perawatannya mudah. Bandingkan dengan lego yang ketika rusak tidak bisa diapa-apakan lagi, padahal itu investasi,” ujarnya.
Chris menambahkan, pelatihan robotik semacam ini sebenarnya tidak hanya diperuntukkan bagi siswa, guru, dan kalangan akademisi. Para profesional dan orang tua juga bisa mempelajari cara merakit robot. “Ada robotic for kids, for teacher, for parents, dan robotic for family. Bahkan beberapa waktu lalu kami juga sempat melatih para profesional muda di sebuah perusahaan besar. Sebab dengan robot ini kita belajar menyelesaikan masalah, analisis, hingga solusi,” tuturnya.
Salah satu peserta pelatihan dari SMAN 1 Gadingrejo Lampung, Jumiran mengatakan dirinya bersama tiga siswanya sengaja datang ke Bandung untuk belajar lebih banyak mengenai robot.
“Ya mumpung libur juga dan sekalian dalam rangka persiapan menuju Kontes Robot Nasional tingkat SMA Oktober nanti. Pelatihan semacam ini cocok sekali untuk siswa dan saya berharap di sekolah nanti bisa membuka ekskul khusus robotik,” katanya. Salah seorang siswa, Ramadhan Aditya, mengaku sangat senang bisa belajar banyak hal dari pelatihan di Kota Bandung. (Nuryani/”PR”)***
http://nextsys.web.id

Kamis, 30 Desember 2010

JADI DOSEN, MANTAN TKW NURYATI DIGANJAR PENGHARGAAN OLEH PEMERINTAH ARAB








Jadi Dosen, Mantan TKW Nuryati Diganjar Penghargaan oleh Pemerintah Arab

Jakarta - Mantan Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang kini menjadi dosen Fakultas Hukum Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Nuryati Salopari, kembali menyabet penghargaan. Kali ini, Nuryati menerima penghargaan dari negara yang pernah dirantaunya, Arab Saudi.

Penghargaan itu diberikan oleh Wakil Duta Besar Saudi Arabia, Majed Abdulaziz Al-Dayel, di Kedubes Arab Saudi untuk Indonesia di Jakarta, Selasa (27/12/2010).

Keluarga ibu 3 anak itu hadir dalam kesempatan tersebut. Selain itu, hadir pula Staf Khusus Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI Abdulwahid Maktub sebagai perwakilan dari Pemerintah Indonesia.

Dalam sambutannya, Al-Dayel mengatakan, banyak cerita sukses yang dialami oleh TKI yang bekerja di negaranya. Namun, ada pula beberapa TKI yang mengalami nasib sebaliknya akibat tindakan yang dilakukan para majikan di Arab Saudi.

Al-Dayel mencontohkan penyiksaan yang menimpa Sumiati. Akan tetapi, katanya, pengadilan di Arab Saudi telah mengambil alih kasus tersebut. Sumiati sendiri telah mendapatkan perawatan yang semestinya di rumah sakit.

Al-Dayel juga mengecam aksi-aksi demonstrasi masyarakat Indonesia yang memprotes penyiksaan yang dilakukan orang Arab Saudi terhadap TKI.

"Al Dayel mencatat ada sebagian kelompok kecil yang memanfaatkan demonstrasi dan menyampaikan pendapatnya dengan cara biadab yang diiringi dengan tindakan-tindakan tidak manusiawi sebagaimana yang terjadi di depan Kedutaan Saudi Arabia beberapa waktu lalu," tulis KBRI Arab Saudi dalam rilisnya kepada detikcom.

Tentang Nuryati, sebelumnya ia dianugerahi piagam penghargaan Purna TKI Motivator di depan Wakil Presiden Boediono pada Senin (20/12/2010). Nuryati dinilai sebagai sosok TKI yang mampu menjadi motivasi bagi TKI-TKI lainnya. Selain Nuryati, ada lagi 4 mantan TKI lainnya yang memenangkan penghargaan dengan berbagai kategori.

Nuryati berangkat ke Arab Saudi pada tahun 1998 dengan tujuan untuk memperoleh modal kuliah. Pada 2001, ia kembali ke Indonesia dan mendaftar ke universitas tempatnya mengajar sekarang ini dari hasil bekerja sebagai baby sitter di Arab.

Usai menggondol gelar sarjana, Nuryati yang juga bersuamikan seorang dosen ini melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Jaya Baya. Sekitar 4 tahun lalu, ia menyelesaikan sekolah pasca sarjananya dan menjadi dosen hukum di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

http://www.detiknews..com/read/2010/1...emerintah-arab

Selasa, 28 Desember 2010

ROMEO, ROBOT PENUH CINTA



Sebuah perusahaan pencipta robot asal Prancis, Aldebaran Robotics membuat robot yang mampu menunjukkan rasa cinta dengan cara mampu mengerjakan berbagai tugas sebagaimana layaknya manusia.

Robot humanoid yang diberi nama Romeo ini dapat mengerjakan tugas keseharian di rumah, seperti membuang sampah, mengambil makanan atau minuman dari lemari es, membuka dan menutup pintu, membereskan rumah, menyiapkan makanan di meja makan, dan merawat orang sakit atau lansia.

Robot dengan tinggi 4,5 kaki ini dilengkapi fitur antarmuka (interface) yang bisa mendeteksi gerakan dan suara manusia. Pada robot yang berbobot 88 pon ini juga dibenamkan sensor pada bagian mata, kaki, dan tulang punggung.

Untuk tahap awal, Aldebaran akan menguji coba robot yang dibanderol dengan harga 250 Euro atau sekitar US$ 327 ribu ini ke rumah sakit dan panti jompo.

Salain robot humanoid Romeo, Aldebaran juga sedang merancang Robovie R3, sebuah robot yang tingginya separuh dari Romeo dan dirancang untuk merawat orang cacat. Ada pula Kompai R&D yang khusus dibuat untuk para orang lanjut usia yang berada di rumah sendirian atau panti jompo.
http://www.tempointeraktif.com/hg/iptek/2010/12/28/brk,20101228-302054,id.html